Ketersediaan paket teknologi komoditas ternak ayam kampung yang kompatibel dalam suatu sistem usaha tani, termasuk usaha pembesaran ayam kampung berdasarkan agro ekosistem spesifik, akan memacu peternak dalam mengembangkan usahanya.

Sebagaimana sudah menjadi pengetahuan umum, ayam kampung adalah ternak unggas yang hampir tidak dapat dipisahkan dari kehidupan para petani di pedesaan. Namun karena cara pemeliharaannya masih tradisional, kedudukan jenis unggas ini belum beranjak dari statusnya sebagai pelengkap. Produktifitasnya tetap rendah, sementara angka kematian yang mengancamnya sangat tinggi. Untuk mengubah keadaan yang demikian, langkah pembudidayaan yang terarah jelas diperlukan.

Langkah budidaya tersebut meliputi pemilihan bibit yang baik, perbaikan makanan, peningkatan tatacara perkandangan, pengendalian hama/penyakit serta perbaikan manajemen pemeliharaan lainnya. Ketersediaan paket teknologi komoditas ternak ayam kampung yang kompatibel dalam suatu sistem usaha tani, termasuk usaha pembesaran ayam kampung berdasarkan agro ekosistem spesifik, akan dapat memacu petani peternak mengembangkan usahanya. Tiga orang peneliti dari Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Bengkulu yakni, Azmi, Siswani D.L., Zul Efendi dan Fera Mahmilia, melakukan riset untuk mengkaji manfaat paket teknologi untuk pembesaran ayam buras.

Riset dilakukan di Bengkulu dengan melibatkan 9 peternak yang masing-masing memelihara 25 ekor ayam kampung berumur lebih kurang 2 bulan secara semi intensif selama 120 hari. Ayam-ayam tersebut terbagi dalam 3 perlakuan, dengan menerapkan teknologi dalam pemberian pakannya. Komposisi dan imbangan/persentase pakan berbeda untuk tiap perlakuan, dengan konsumsi/jumlah pemberian pakan yang berbeda pula untuk setiap pertambahan umur ayam.  Perlakuan I dan II ayam dipelihara dengan menerapkan teknologi dalam pemberian pakannya.

Pada perlakuan I diterapkan teknologi introduksi dengan pakan yang diberikan berupa jagung giling, dedak halus, konsentrat dan top mix. Perlakuan II menggunakan teknologi perbaikan, pakan yang diberikan berupa jagung giling dedak halus, BR, gabah dan hijauan. Perlakuan III, ayam dipelihara dengan cara yang biasa digunakan petani, pakan yang diberikan biasanya berupa jagung giling, dedak halus dan sisa-sisa dapur. Bulan pertama jumlah pakan yang diberikan 55 gram/ekor/hari, bulan kedua 65 gram/ekor/hari, bulan ketiga 75 gram/ekor/hari dan bulan keempat 105 gram/ekor/hari.

Hasil pengamatan yang dilakukan pada ketiga paket teknologi tersebut memperlihatkan bahwa rata-rata berat badan ayam kampung umur 6 bulan yang menggunakan teknologi introduksi 1.177 gram, teknologi perbaikan 1.292 gram sedangkan pada teknologi petani hanya 732,16 gram. Pertambahan berat badan ayam kampung yang diberi ransum teknologi introduksi dan teknologi perbaikan cukup baik. Hal ini disebabkan karena kadar protein yang terkandung dalam ransum paket lebih tinggi dibandingkan teknologi petani. Kadar protein ransum teknologi introduksi 15,18%, teknologi perbaikan 15,84% sedang ransum teknologi petani hanya 10,6%.

Analisa usaha yang dihitung selama riset berlangsung menunjukkan bahwa keuntungan yang diperoleh pada teknologi introduksi sebesar Rp 39.500 (R/C ratio 1,09) teknologi perbaikan Rp. 69.000 (R/C Ratio 1,66) sedang teknologi petani mengalami kerugian sebesar Rp. 106.500 (R/C ratio 0,73). Hal ini disebabkan disamping perbedaan harga jual ayam per ekor juga perbedaan biaya produksi pada masing-masing paket.

Dari riset ini disimpulkan bahwa pembesaran ayam kampung dengan menggunakan teknologi perbaikan layak untuk dikembangkan. Penerapan teknologi  akan lebih baik dan memberikan hasil optimal bila sapronak yang meliputi bibit dan sebagian pakan, seperti dedak dan jagung dapat dipenuhi sendiri oleh para peternak.

Edited By alwie N. (animal husbandry Undip)