Menurut asal-usulnya sapi perah berasal dari Famili : Bovidae Genus : Bos Subgenus : Taurinae.

Subgenus Taurinae terbagi atas :

  1. Bos Taurus Typicus, ialah sapi yang tidak mempunyai punuk (kelas); termasuk dalam golongan ini sapi modern di daerah iklim sedang.
  2. Bos Taurus Indicus, ialah sapi yang mempunyai kelas, tersebar di daerah Asia dan Afrika, terkenal dengan nama Sapi Zebu. Tanda lain yang membedakannya dari Bos Taurus Typicus ialah telinganya jatuh, ekor membentuk cambuk, dan adanya lipatan-lipatan kuluit di sebelah bawah leher dan perut.

Typicus dapat dibagi lagi dalam 4 golongan, yaitu :

  1. Bos Taurus Primigenius, ialah sapi yang berasal dari Eropa, Asia Barat, Afrika Utara. golongan sapi inilah yang menghasilkan/menurunkan sapi perah terkenal seperti : Fries Holland, Ayrshira, Milking Shorthorn, Dairy Red-Palled dan lain-lain. Sapi ini digolongkan dalam sapi yang besar.
  2. Bos Taurus Longifrens, ialah sapi yang berasal dari Eropa dan Inggris yang menurunkan sapi perah terkenal yaitu Brown Swiss, Jersey, Guernsey. Sapi ini digolongkan sapi kecil.
  3. Bos Taurus Frontalis, berasal dari Swedia, Skandinavia, golongan sapi ini kurang diketahui keturunannya.
  4. Bos Taurus Brachycephalus, golongan sapi ini menurunkan sapi French Canadian, Devon dan lain-lain.

Sapi perah yang unggul dan paling banyak dipelihara adalah sapi Shorthorn (dari Inggris), Friesian/Fries Holland (sering disebut sapi FH dari Belanda). Jersey (dari Selat Channel antara Inggris dan Perancis), Brown Swiss (dari Switzerland), Red Danish (dari Denmark) dan Droughtmaster (dari Australia). Menurut hasil survei, sapi perah yang cocok dibudidayakan di Indonesia adalah sapi Frisien Holstein.

Teknis Budidaya

Tujuan utama pemeliharaan sapi perah adalah menghasilkan susu. Untuk menghasilkan susu, setelah sapi betina beranak. Sedangkan untuk mencapai produksi yang optimal maka dalam pelaksanaan budidaya sapi perah harus mengikuti program Rearing atau pemeliharaan sapi perah betina sejak lahir secara terprogram dengan tujuan untuk mendapatkan sapi betina yang memiliki kaki-kaki yang kuat, bentuk ambing yang baik dan alat pncernaan yang berkembang baik dalam mendapatkan produksi susu yang HAUS (Halal, Aman, Utuh, Sehat). Adapun program Rearing tersebut adalah (1) Pemeliharaan pedet masa sapih, (2) Pemeliharaan pedet lepas sapih, (3) Pemeliharaan sapi dara, (4) Pemeliharaan sapi laktasi.

Sapi perah yang unggul dan paling banyak dipelihara adalah sapi Shorthorn (dari Inggris), Friesian/Fries Holland (sering disebut sapi FH dari Belanda). Jersey (dari Selat Channel antara Inggris dan Perancis), Brown Swiss (dari Switzerland), Red Danish (dari Denmark) dan Droughtmaster (dari Australia). Menurut hasil survei, sapi perah yang cocok dibudidayakan di Indonesia adalah sapi Frisien Holstein.

Teknis Budidaya

Tujuan utama pemeliharaan sapi perah adalah menghasilkan susu. Untuk menghasilkan susu, setelah sapi betina beranak. Sedangkan untuk mencapai produksi yang optimal maka dalam pelaksanaan budidaya sapi perah harus mengikuti program Rearing atau pemeliharaan sapi perah betina sejak lahir secara terprogram dengan tujuan untuk mendapatkan sapi betina yang memiliki kaki-kaki yang kuat, bentuk ambing yang baik dan alat pncernaan yang berkembang baik dalam mendapatkan produksi susu yang HAUS (Halal, Aman, Utuh, Sehat). Adapun program Rearing tersebut adalah (1) Pemeliharaan pedet masa sapih, (2) Pemeliharaan pedet lepas sapih, (3) Pemeliharaan sapi dara, (4) Pemeliharaan sapi laktasi.

Facilities and Equipment

In the preparation of facilities and equipment that is the form of entertainment equipment and tools from the calf pen until the cows lactation, you can also refer to previous articles planning and design of the pen dairy cow .
Kandang Pedet

Untuk kandang pedet bahannya disesuaikan dengan kondisi setempat serta kemampuan keuangan, dan kandang tersebut dapat dipindah-pindahkan (praktis) serta untuk memudahkan pengawasan pedet. Kandang pedet harus selalu bersih, kering, cukup sinar matahari dan sirkulasi udaranya baik. Kandang diberi alas, misalnya jerami yang kering dan bersih. Untuk menjaga kebersihan dan kesehatan, alas kandang yang kotor harus diganti.

Kandang Sapi Dara

Sapi dara dapat dipelihara secara berkelompok di dalamkandang model Free Barn, manfaatnya adalah sapi dapat bebas bergerak, cukup sirkulasi udara dan sinar matahari, prisainya dalam memperoleh pakan serta memudahkan dalam mendeteksi birahi.

Kandang Sapi Laktasi

Kandang sapi laktasi harus memenuhi persyaratan konstruksi kandang yang baik, karena konstruksi kandang yang salah merupakan salah satu penyebab sapi stress karena selain itu pekerjaan kandang pun menjadi susah, malas atau membuang banyak tenaga untuk bekerja di dalam kandang yang tidak nyaman.

Untuk lebar lorong minimal 90 cm, dan lebar tempat pakan 80 – 100 cm. sedangkan panjang lantai 150 – 175 cm serta lebar lantai sekitar 105 – 106 cm dan untuk lebar saluran kotoran 40 – 60 cm.

Untuk syarat tempat pakan terutama pada sapi laktasi adalah sebagai berikut : Sapi dapat makan dengan leluasa, tidak terganggu dengan sapi yang lain dan mudah mengkonsumsi pakan dalam keadaan segar. Pada saat akan makan, pakan dapat terlihat jelas sehingga tempat pakan tidak terlalu tinggi atau rendah.
Mudah dibersihkan.
Permukaannya halus.
Seminimal mungkin pakan hilang atau berhamburan
Direkomendasikan untuk membuat tempat pakan model rata dan model celung

Dan untuk tempat minum dengan syarat-syarat sebagai berikut :
Terpisah dari tempat pakan, air tidak mengalir ke tempat pakan.
Air minum yang bersih harus selalu tersedia. Kebutuhan minimal 30 – 80 liter/ekor/hari.
Direkomendasikan untuk membuat tempat minum dalam ukuran yang kecil dan tidak terlalu dalam. Satu tempat minum untuk 2 ekor.

Pembibitan

Syarat-syarat yang harus dipenuhi oleh bibit sapi perah betina dewasa adalah (a) produksi susu tinggi, (b) umur 3,5 – 4,5 tahun dan sudah pernah beranak, (c) berasal dari induk dan pejantan yang mempunyai keturunan produksi susu tinggi, (d) bentuk tubuhnya seperti baji, (e) matanya bercahaya, punggung lurus, bentuk kepala baik, jarak kaki depan atau kaki belakang cukup lebar serta kaki kuat, (f) ambing cukup besar, pertautan pada tubuh cukup baik, apabila diraba lunak, kulit halus, vena susu banyak, panjang dan berkelok-kelok, puting susu tidak lebih dari empat, terletak dalam segi empat yang simetris dan tidak terlalu pendek, (g) tubuh sehat dan bukan sebagai pembawa penyakit menular, dan (h) tiap tahun beranak. Sementara calon induk yang baik antara lain : (a) berasal dari induk yang menghasilkan air susu tinggi, (b) kepala dan leher sedikit panjang, pundak tajam, badan cukup panjang, punggung dan pinggul rata, dada dalam dan pinggul lebar, (d) pertumbuhan ambing dan putting baik, (e) jumlah putting tidak lebih empat dan letaknya simetris, dan (f) sehat dan tidak cacat.

Pejantan yang baik harus memenuhi kriteria sebagai berikut : (a) umur sekitar 4 – 5 tahun, (b) memiliki kesuburan tinggi, (c) daya menurunkan sifat produksi yang tinggi pada anak-anaknya, (d) berasal dari induk dan pejantan yang baik, (d) besar badannya sesuai dengan umur, kuat, dan mempunyai sifat-sifat pejantan yang baik, (f) kepala lebar, leher besar, pinggang besar, punggung kuat, (g) muka sedikit panjang, pundak sedikit tajam dan lebar, (h) paha rata dan cukup terpisah, (i) dada lebar dan jarak antara tulang rusuknya lebar, serta (k) sehat, bebas dari penyakit menular dan tidak menurunkan cacat pada keturunannya.

Pemilihan Bibit dan Calon Induk Untuk mengejar produktivitas ternak yang tinggi, diperlukan perbaikan laingkungan hidup dan peningkatan mutu genetik ternak yang bersangkutan. Sedangkan untuk menjamin mutu produk yang sesuai dengan persyaratan teknis minimal setiap bibit sapi perah sebagai berikut :

  1. Mempunyai silsilah (pedigree) sampai 2 (dua) generasi diatasnya untuk bibit dasar/elite dan bibit induk;
  2. Mempunyai silsilah (pedigree) minimal 1 (satu) generasi diatasnya untuk bibit sebar;
  3. Berasal dari daerah yang bebas penyakit hewan menular tang dinyatakan dengan Surat Kesehatan Hewan dari pejabat yang berwenang;
  4. Memiliki bentuk ideal, alat reproduksi normal serta tidak memiliki cacat fisik;
  5. Memiliki ambing simetris, pertautan luas dan kuat, jumlah puting empat, bentuk dan fungsi puting normal;
  6. Sudah potong tanduk (di-dehornim);
  7. Bukan dari kelahiran jantan dan betina (free martin);
  8. Secara khusus memperhatikan umur, tinggi pundak, berat badan, lingkar dada dan warna bulu sesuai dengan standar kelompok bibit sapai perah yang telah disepakati sebagai berikut :
    • Umur : betina minimal 15 – 20 bulan, jantan minimal 18 bulan
    • Tinggi pundak : betina minimal 115 cm, jantan minimal 134 cm
    • Berat badan : betina minimal 300 kg, jantan minimal 480 kg
    • Lingkar dada : betina minimal 155 cm
    • Warna bulu : hitam putih/merah putih sesuai dengan karakteristik sapi FH
  9. Berdasarkan kemampuan dan kualitas produksi susu tetuanya, bibit sapi terdiri dari dasar, bibit induk dan bibit sebar dengan persyaratan teknis seperti tabel berikut :
  10. Kategori Produksi Susu Induk (305 hari/pada laktasi) Induk yang mempunyai produksi susu 35 hari Kadar Lemak
    Bibit Dasar > 6.000 kg > 7.000 kg 3,5 %
    Bibit Induk 5.000 – 6.000 kg > 6.000 kg 3,5 %
    Bibit Sebar 4.000 – 5.000 kg > 5.000 kg 3,5 %
  11. Secara khusus untuk sapi perah pejantan lingkar scrotum minimal 32 cm;
  12. Bibit yang baru datang harus dikarantina untuk penularan penyakit. Kemudian bibit diberi minum air yang dicampur garam dapur, ditempatkan dalam kandang yang bersih dan ditimbang serta dicatat penampilannya.

Perawatan Bibit dan Calon Induk Seluruh sapi perah dara yang belum menunjukkan tanda-tanda birahi atau belum bunting setelah suatu periode tertentu, harus disisihkan. Jika sapi disisihkan tersebut telah menghasilkan susu, sapi diseleksi kembali berdasarkan produksi susunya, kecenderungannya terkena radang ambing dan temperamennya. Seringkali sapi perah dara dikawinkan dengan pejantan pedaging untuk mengurangi resiko keseluruhan lahir dan baru setelah menghasilkan anak satu dikawinkan dengan pejantan sapi perah pilihan. Bibit harus diberi kesempatan untuk bergerak aktif paling tidak 2 jam setiap hari. Pemeliharaan

  1. Sanitasi dan Tindakan Preventif Pada pemeliharaan secara intensif sapi-sapi dikandangkan sehingga peternak mudah mengawinkannya, sementara pemeliharaannya secara ekstensif pengawasannya sulit dilakukan karena sapi-sapi yang dipelihara dibiarkan hidup bebas. Sapi perah yeng dipelihara dalam naungan (ruangan) memiliki konsepsi produksi yang lebih tinggi (19%) dan produksi susunya 11% lebih banyak daripada tanpa naungan. Bibit yang sakit segera diobati yang menjelang beranak dikeringkandangkan selama 1 – 2 bulan.
  2. Pemeliharaan Ternak Ternak dimandikan 2 hari sekali, khusus sapi induk dimandikan setiap hari setelah kandang dibersihkan dan sebelum pemerahan susu. Kandang harus dibersihkan setiap hari, kotoran kandang ditempatkan pada penampungan khusus sehingga dapat diolah menjadi pupuk. Setelah kandang dibersihkan, sebaiknya lantainya diberi tilam sebagai alas lantai yang umumnya terbuat dari jerami dan sisa-sisa pakan hijauan (seminggu sekali tilam tersebut harus dibongkar) Penimbangan dilakukan sejak sapi pedet hingga usia dewasa, untuk sapi pedet ditimbangkan seminggu sekali. Sementara sapi dewasa ditimbang setiap bulan atau 3 bulan sekali. Untuk sapi yang baru disapih ditimbang sebulan sekali, sedangkan sapi dewasa dapat ditimbang dengan melakukan taksiran pengukuran berdasarkan lingkar dan lebar dada, panjang badan dan tinggi pundak.
  3. Pakan Pakan yang diberikan berupa hijauan dan konsentrat. Hijauan yang berupa jerami padi, pucuk daun tebu, lamtoro, alfalfa, rumput gajah, rumput benggale atau rumput raja. Hijauan diberikan siang hari setelah pemerasan sebanyak 30 – 50 kg/ekor/hari. Pakan berupa rumput bagi sapi dewasa umumnya diberikan sebanyak 10% dari bobot badan (BB) dan pakan tambahan sebanyak 1 – 2 % dari BB. Sapi yang sedang menyusui (laktasi) memerlukan makanan tambahan sebesar 25 % hijauan dan konsentrat dalam ransumnya. Hijauan yang berupa rumput segar sebaiknya ditambah dengan jenis kacang-kacangan (legum). Sumber karbohidrat berupa dedak halus atau bekatul, ampas tahu, gaplek, dan bungkil kelapa serta mineral (sebagai penguat) yang berupa garam dapur, kapur, dan lain-lain. Pemberian pakan konsentrat sebaiknya diberikan pada pagi hari dan sore hari sebelum sapi diperah sebanyak 1 – 2 kg/ekor/hari. Selain makanan, sapi harus diberi air minum sebanyak 10 % dari berat badan per hari. Pemeliharaan utama adalah pemberian pakan yang cukup dan berkualitas, serta menjaga kebersihan kandang dan kesehatan ternak yang dipelihara.

Perawatan Kandang Kotoran ternak ditimbun di tempat lain agar mengalami proses fermentasi (+ 1 – 2 minggu) dan berubah menjadi pupuk kandang yang sudah matang dan baik. Kandang sapi tidak boleh tertutup rapat (agak terbuka) agar sirkulasi udara didalamnya berjalan lancar. Air minum yang bersih harus tersedia setiap saat. Tempat pakan dan minum sebaiknya dibuat di luar kandang tetapi masih di bawah atap. Tempat pakan dibuat agak lebih tinggi agar pakan yang diberikan tidak diinjak-injak atau tercampur dengan kotoran. Sementara tempat air minum sebaiknya dibuat permanen berupa bak semen dan sedikit lebih tinggi daripada permukaan lantai. Sediakan pula peralatan untuk memandikan sapi. Penyakit Untuk memperoleh hasil yang baik, dalam budidaya ternak sapi perah harus memperhatikan persyaratan kesehatan hewan yang meliputi :

  1. Situasi penyakit, untuk budidaya sapi perah harus terletak di darah yang tidak terdapat gejala klinis atau bukti lan tentang penyakit radang limpa (antraks) kluron menular (Brucellosis). Berikut ini beberap penyakit yang harus diperhatikan dan diketahui gejala atau tanda-tanda penyakit tersebut.
    1. Penyakit Antraks Penyebab : Bacillus antrachis yang menular melalui kontak langsung, makanan/minuman dan pernafasan. Gejala : (1) demam tinggi, badan lemah dan gemetar; (2) gangguan pernafasan; (3) pembengkakan pada kelenjar dada, leher, alat kelamin dan badan penuh bisul; (4) kadang-kadang darah berwarna merah hitam yang keluar melalui hidung, telinga, mulut, anus dan vagina; (5) kotoran ternak cair dan sering bercampur darah; (6) limpa bengkak dan berwarna kehitaman. Pengendalian : vaksinasi, pengobatan antibiotika, mengisolasi sapi yang terinfeksi serta mengubur/membakar sapi yang mati.
    2. Penyakit mulut dan kuku (PMK) atau penyakit Apthae Epizootica (AE)
      Penyebab : virus ini menular kontak langsung melalui air kencing, air susu, air liur, dan benda lain yang tercemar kuman AE.
      Gejala : (1) rongga mulut, lidah dan telapak kaki atau atau tracak melepuh serta terdapat tojolan bulat berisi cairan yang bening; (2) demam atau panas, suhu badan menurun drastis; (3) nafsu makan menurun bahkan tidak mau makan sama sekali; (4) air liur keluar berlebihan.
      Pengendalian : vaksinasi dan sapi yang sakit diasingkan dan diobati secara terpisah.
    3. Penyakit ngorok/mendengkur atau penyakit Septichaema Epizootica (SE)
      Penyebab : bakteri pasturella multocida. Penularannya melalui makanan dan minuman yang tercemar bakteri.
      Gejala : (1) kulit kepala dan selaput lendir lidah membengkak, berwarna merah dan kebiruan; (2) leher, anus, dan vulva membengkak; (3) paru-paru meradang, selaput lendir usus dan perut masam dan berwarna merah tua; (4) demam dan sulit bernafas sehingga mirip orang yang ngorok. Dalam keadaan yang sangat parah, sapi akan mati dalam waktu antara 12 – 36 jam.
      Pengendalian : vaksinasi anti SE dan diberi antibiotika atau sulfa.
    4. Penyakit radang kuku atau kuku busuk (foot root) Penyakit ini menyerang sapi yang diperlihara dalam kandang yang basah dan kotor. Gejala : (1) mula-mula sekitar celah kuku bengkak dan mengeluarkan cairan putih keruh; (2) kulit kuku mengelupas; (3) tumbuh benjolan yang menimbulkan rasa sakit; (4) sapi pincang dan akhirnya bisa lumpuh.
    5. Penyakit Mastitis Mastitis adalah peradangan pada ambing bagian dalam. Mastitis bersifat kompleks karena :
      • Penyebabnya beragam (bakteri : streptococcus sp, stphylococcus sp, dan lain-lain, kapang atau khamir serta virus)
      • Tingkat reaksinya beragam
      • Lama penyakitnya bervariasi
      • Akibat yang ditimbulkannya sangat bervariasi
    6. Sulit melaksanakan pengobatan sampai tuntas atau sembuh total. Ada 3 faktor mempermudah terjadinya mastitis yaitu, kondisi hewan itu sendiri, kondisi lingkungan yang buruk dan agen penyebab penyakit (mikroba)

Pencegahan Upaya pencegahan yang dilakukan adalah melakukan vaksinasi dan pengujian/tes laboratorium terhadap penyakit hewan menular tersebut yang ditetapkan oleh instansi yang berwenang. Mancatat setiap pelaksanaan vaksinasi dan jenis vaksin yang dipakai dalam kartu kesehatan ternak. Melaporkan kepada Dinas yang membidangi fungsi peternakan setempat terhadap kemungkinan timbulnya kasus penyakit terutama yang diduga sebagai penyakit hewan menular secara serta memperhatikan penggunaan obat hewan harus sesuai dengan ketentuan dan diperhitungkan secara ekonomis. Pemotongan kuku dilakukan minimal 3 (tiga) bulan sekali, dan setiap dilakukan pemerahan harus dilakukan uji mastitis. Tindakan Biosecurity juga sangat penting dalam rangka pengawasan kesehatan. Hal-hal tindakan biosecurity adalah sebagai berikut : – Lokasi usaha tidak mudah dimasuki binatang liar serta bebas dari hewan piaraan lainnya yang dapat menularkan penyakit serta melakukan desinfeksi kandang dan peralatan dengan menyemprotkan insektisida pembasmi serangga, lalat, dan serangga lainnya. – Untuk mencegah terjadinya penularan penyakit dari satu kelompok ternak ke kelompok ternak lainnya, pekerja yang melayani ternak yang sakit tidak diperkenankan melayani ternak yang lain dan selalu menjaga agar tidak setiap orang dapat bebas keluar masuk kandang ternak yang memungkinkan terjadinya penularan penyakit – Mengeluarkan ternak yang sakit dari kandang untuk segera diobati atau dipotong oleh yang berwenang. B. Hasil Hasil utama dari budidaya sapi perah adalah susu yang dihasilkan oleh induk betina. Selain susu sapi perah juga memberikan hasil yang lain yaitu daging dan kulit yang berasal dari sapi yang sudah tidak produktif serta pupuk kandang yang dihasilkan dari kotoran ternak.

Author By Alwie N. (animal husbandry undip)