Kloning ayam yang memiliki kekebalan terhadap serangan flu burung merupakan alternatif yang saat ini telah dilakukan di tingkat laboratorium. Ini dianggap sebagai alternatif yang lebih efisien ketimbang melakukan vaksinasi.

Sebuah tim ahli yang dipimpin oleh Dr. Laurence Tiley melalui Multi-institute British Research Project, bekerjasama dengan Dr. Helen Sang dari Roslin institute Edinburg, Scotland, melakukan ekplorasi potensi penciptaan ternak unggas yang memiliki sifat resisten terhadap virus flu burung dengan menggunakan teknologi modifikasi genetik.

Strategi untuk memperoleh ayam kebal flu burung dilakukan dengan mempertimbangkan mekanisme kekebalan alamiah dan memadukan dengan metode pembaharuan yang inkonvensional. Pekerjaan ini bertujuan memproduksi ayam yang memiliki kekebalan terhadap semua strain virus flu burung baik yang bersifat HPAI maupun LPAI.

Apabila ayam kebal flu burung tersebut telah diproduksi secara massal dan diperdagangkan secara komersial, maka akan terjadi efisiensi –secara teknis maupun ekonomis- dalam memproduksi vaksin. Artinya, tidak diperlukan lagi vaksin flu burung yang jika kita hitung kombinasi strainnya dapat mencapai 135 jenis.

Sebenarnya terdapat beberapa alasan mengapa penelitian itu dilakukan. Pertama, flu burung telah menjadi persoalan global saat ini. seluruh dunia berada pada posisi pertengahan wabah terbesar internasional yang pernah tercatat dari jenis virus HPAI. Ratusan juta ternak telah dibantai dalam rangka pengendalian penyakit. Hal ini telah menyebabkan penderitaan tersendiri bai para peternak.

Kedua, adanya kekhawatiran kemampuan virus untuk menular dan berkembang antar spesies, yakni kemungkinan besar terhadinya penularan dari hewan ke manusia. Lebih lanjut dari manusia ke manusia. Ayam merupakan jembatan spesies yang potensial bagi penularan virus berbahaya ini dan dapat memfasilitasi penularan dari unggas liar ke manusia. Apalagi, dengan dipergunakannya vaksin yang tidak homolog dengan virus lokal, terlebih lagi berasal dari impor, dapat menyebabkan penambahan ‘kekayaan’ bibit penyakit di negara ini. Hal ini dapat merepotkan pemberantasannya di kemudian hari jika wabah terjadi dengan strain yang lebih ganas. Bahkan keganasan akan dipercepat berkat keberadaan bahan genetika dari virus yang bervariasi. Ini tentu bukan hal yang diharapkan.

Ketiga, teknologi modifikasi genetik sendiri memiliki potensi besar dalam menyebarkan jenis ternak yang tahan terhadap serangan penyakit. Rendahnya popularitas dan kepercayaan masayarakat terhadap teknologi modifikasi genetik pada produksi bahan makanan diharapkan berbeda dalam tujuan pengamanan bahan pangan ini.

Keempat, tim pelaksana proyek itu sendiri memiliki kemampuan menguasai penelitian dasar untuk mengembangkan mekanisme molekuler dalam mengendalikan replikasi virus influenza. Pencapaian teknologi di tingkat laboratorium sudah seharusnya segera dipergunakan secara aplikatif di lapangan.

Dasar pengembangan manupulasi genetif tersebut diperoleh dari adanya protein yang dikenali sebagai Mx dengan kode Mx1 dari tikus yang bersifat sangat protektif terhadap serangan flu pada model penyakit tersebut. sedangakan protein Mx pada ayam bersifat inaktif. Terdapat satu jenis protein polimorfisme dari Mx ayam yang diduga aktif melawan influenza.

Hingga sejauh ini masih dilakukan pencarian lokus gen lain yang membawa sifat mengaktifkan protein Mx pada ayam tersebut untuk memperoleh ayam yang resisten terhadap serangan flu burung. Untuk itu diperlukan tindakan inkonvensional, yakni modifikasi genetik pada ayam yang dirancang memiliki kekebalan terhadap flu burung, yang tidak dapat hanya dilakukan dengan cara selective breeding.

Strategi lain yang dikembangakan adalah dengan mencari RNA mikro yang memiliki kemampuan menghambat virus dalam mengasilkan protein esensial bagi perkembangbiakan virus di dalam sel. Selain itu juga menggunakan RNA penjebak yang dapat mencegah mesin perbanyakan virus dari interaksi dengan genom virus.

Dasar-dasar penemuan ini dapat dikembangkan pada berbegai jenis hewan antara lain : ayam broiler, petelur, puyuh, kalkun, itik, bahkan juga pada bagi. Hewan-hewan transgenik dari hasil modifikasi genetik tersebut sangat memungkinkan diperoleh di masa mendatang.

Edited by Alwie N. (animal husbandry undip)