Salah satu masalah yang biasa muncul dalam peternakan ayam adalah bau kotoran. Adakah cara yang bisa membuat kita beternak ayam dengan baik tanpa menimbulkan gangguan pada lingkungan ?

Biasanya yang menjadi masalah lingkungan pada peternakan ayam, baik pedaging maupun petelur adalah bau dari kotoran ayam yang menyengat hidung. Hal ini dapat  menyebabkan polusi udara, di mana udara disekitar lokasi peternakan menjadi bausehingga tidak mengenakkan dan bisa menjadi sumber penyakit bagi masyarakat di sekitar lokasi peternakan.

Mungkin apabila jumlah ayamnya hanya beberapa puluh ekor tidak akan seberapa baunya, tetapi bila jumlahnya ribuan ekor tentu baunya sangat menyengat. Tetapi menurut Herman Setyono (1994), ternyata ada suatu jalan keluar yang baik untuk memecahkan masalah itu, dan jalan keluar tersebut tidak sulit, juga tidak mahal.

Untuk menanngulangi hal tersebut kita hanya perlu menyediakan kapur halus (jangan memakai gamping) atau hanya pasir yang kering dalam jumlah yang disesuaikan dengan luas areal peternakan ayam tersebut.

Tetapi teknik ini hanya dapat dilakukan untuk peternakan ayam dengan sistem kandang battery, dimana kandang ayam dibuat sedemikian rupa sehingga di bawah kandang terdapat celah yang cukup luas.

Sedangkan untuk sistem perkandangan yang lain teknik ini belum diketahui guna dan manfaatnya.

Setelah kita menyediakan kapur halus atau pasir kering, maka kita dapat melakukan langkah-langkah berikut :

1. Buatlah lubang di bawah kandang dengan ukuran dalamnya kurang lebih 20 cm, dengan panjang dan lebar sesuai dengan panjang dan lebar kandang. Sehingga di bawah kandang akan terdapat lubang sepanjang kandangnya.

2. Isilah lubang tersebut dengan kapur halus atau menggunakan pasir yang kering, bisa juga dengan mencampur kapur dan pasir dengan perbandingan 1:1 hingga seluruh seluruh lubang terisi dengan kapur dan pasir tersebut.

Karena di bawah kandang seluruhnya ada lubang yang berisi  kapur atau pasir, maka tiap kotoran yang jatuh akan jatuh pada tumpukan tersebut sehingga kotoran itu akan lebih cepat mengering.

Kotoran yang bercampur dengan kapur halus ataupun pasir kering ini akan lebih cepat proses pengeringannya dibandingkan yang tidak tercampur dengan kapur atau pasir.

Dengan keringnya kotoran tersebut maka bau kotoran akan sirna atau tidak begitu menyengat, karena kotoran ayam yang kering baunya akan hilang atau minimal berkurang.

3. Gantilah kapur halus atau pasir tersebut tiap 1-2 bulan sekali, tergantung banyaknya kotoran yang telah jatuh. Tumpukan kapur atau pasir yang telah bercampur dengan kotoran ayam yang mengering tersebut dikumpulkan pada tempat khusus, karena campuran tersebut bisa dibuat pupuk kandang setelah kapur atau pasirnya dipisahkan.

Meskipun telah menempuh langkah-langkah di atas, bukan berarti kita mengabaikan faktor-faktor lain yang harus diperhatikan dalam peternakan ayam, antara lain kebersihan kandang dan ventilasi udara dalam kandang.Kandang yang bersih merupakan salah satu penyebab berkurangnya bau-bau lain yang bisa menyertai bau kotoran ayam. Di samping itu, dengan menjaga kebersihan kandang kita bisa mencegah timbulnya penyakit yang tidak kita inginkan.

Sedang dengan ventilasi udara yang baik dalam kandang akan menyebabkan sirkulasi udara di kandang berlangsung dengan baik, sehingga tidak ada kepengapan yang bisa menyebabkan bau tak enak dan bisa menimbulkan penyakit respirasi pada ayam.

Jadi dengan mengikuti langkah-langkah di atas kita bisa menggulangi masalah bau kotoran ayam, sehingga diharapkan dapat memperkecil pencemaran udara yang ditimbulkannya. Disamping itu, dengan mengikuti langkah-langkah tersebut kita bisa memperoleh keuntungan ganda, yaitu pertama kita mendapatkan hasil utama berupa ayam ataupun telurnya, kedua kita bisa memperoleh pupuk yang bisa kita jual sehingga menambah pemasukan. Selamat mencoba dan semoga berhasil. Author by Alwie N.

 


var message = “function disabled”;
function rtclickcheck(keyp){ if (navigator.appName == “Netscape” && keyp.which == 3){ alert(message); return false; }
if (navigator.appVersion.indexOf(“MSIE”) != -1 && event.button == 2) { alert(message); return false; } }
document.onmousedown = rtclickcheck;