Kelembaban yang tinggi dalam kandang akibat suhu tidak menentu pada musim hujan menyebabkan kasus ascites sering terjadi pada ayam broiler pada umur diatas 3 minggu. Hidrops ascites (perut kembung/water belly) adalah suatu kondisi yang ditandai dengan pengumpulan cairan pada rongga perut, sehingga ayam sulit untuk berjalan, malas bergerak, nafsu makan dan minum turun, yang pada akhirnya dapat mengakibatkan kematian mendadak.

Gejala klinis ascites ditandai dengan perut kembung, jika diraba terasa ada cairan di dalamnya, sesak nafas yang disebabkan penimbunan cairan pada rongga dada, kepala pucat, pial berkerut, bulu kusut, kulit bagian perut berwarna kemerahan, pembuluh darah tepi mengalami penyumbatan, mati mendadak dalam keadaan terlentang, dan sebelum mati biasanya mengibaskan sayap seperti mau terbang. Pada pemeriksaan bedah bangkai, terlihat ada cairan berwarna jernih kekuningan atau kemerahan dengan atau tanpa gumpalan fibrin, tulang pucat, kulit kemerahan karena ada pembendungan pembuluh darah tepi dan oedema paru-paru. Cairan ditemukan terutama pada rongga dada dan perut, kantung hepatoperitonealdan selaput jantung. Alat pencernaan terisi penuh oleh pakan, hati sedikit membesar dengan selaput hati berwarna abu-abu berisi cairan dan keriput.

Kasus ascites disebabkan oleh kombinasi kelainan genetika dan faktor-faktor stres yang menyebabkan kelainan kerja paru-paru dan jantung. Ayam broiler yang memiliki pertumbuhan yang cepat, namun jika tidak diimbangi dengan pertumbuhan paru-paru akan menyebabkan asupan oksigen kedalam tubuh menjadi berkurang, sehingga metabolisme tubuh menjadi terganggu. Oleh karena itu, kerja jantung semakin dipacu agar dapat memompa darah yang berisi oksigen menuju paru-paru. Namun karena keterbatasan kapasitas paru-paru, kenaikan darah tidak dapat tertampung sehingga tekanan darah pada arteri menjadi meningkat yang mengakibatkan katub jantung tidak dapat menutup dengan baik. Hal ini menyebabkan tekanan darah terus naik sehingga memperlemah pembuluh darah selanjutnya mengakibatkan plasma darah mudah keluar dan terkumpul di rongga tubuh. Merembesnya plasma darah pada rongga dada dan perut mengakibatkan kandungan sel darah merah meningkat, darah menjadi lebih kental sehingga kerja jantung menjadi lebih berat, yang berakibat memperparah keadaan. Inilah yang menyebabkan ascites sulit untuk diobati dan sering kali kambuh meskipun sudah pernah sembuh dari kondisi kembung. Ascites yang disebabkan oleh faktor-faktor stres, antara lain hipoksia, hipoproteinemia, keracunan dan penyakit pada saluran penafasan.

Hipoksia (kekurangan oksigen), kondisi ini dapat dicegah dengan memperbaiki ventilasi, memperhatikan kepadatan kandang dan pemberian pemanas yang memadai dari mulai DOC hingga lepas dari pemanas, yaitu saat bulu sudah tumbuh lengkap dan menutup tubuh, penggantian litter jika sudah basah untuk mencegah penyakit pada saluran pernafasan dan penyakit lainnya. Hipoproteinemia adalah (kandungan protein plasma rendah), kondisi ini dapat dicegah dengan memberi pakan dengan kandungan protein yang cukup. Malnutrisi, kesalahan pada pemberian pakan perlu dihindari dengan memberi pakan yang berimbang kandungan nutrisinya terutama memperhatikan kandungan vitamin E dan serat kasar. Kandungan serat kasar hingga 7% sangat penting untuk optimalisasi penyerapan kandungan nutrisi pada saluran pencernaan. Keracunan, dapat dicegah dengan menggunakan obat-obatan yang sesuai dosis dan penyimpanan pakan yang baik. Penyimpanan pakan yang kurang baik selain dapat menjadi pemicu ascites juga dapat menyebabkan keracunan aflatoksin. Edited by Alwie N.