Anggapan bahwa DOC  yang baru tiba di kandang tidak boleh di segera diberi pakan masih banyak diyakini oleh sebagian orang. Pemuasaan dianggap akan memberi kesempatan terjadinya penyerapan sisa kuning telur semaksimal mungkin sehingga tidak terjadi omphalitis.

Namun, ternyata  kunig telur tidak mampu memenuhi kebutuhan anak anyam (meskipun pada hari pertama kehidupannya) terutama untuk pertumbuhan.

Di lain pihak pemberian makan pada anak ayam yang sedini mungkin tidak hanya  meningkatkan proses metabolisme, tetapi juga mempercepat gertakan pada sistem imun dan mempercepat pertumbuhan organ-organ sistem pencernaan.

Fisiologis neonatal

Kuning telur dapat memenuhi kebutuhan nutrisi pada masa embrional dalam telur hingga menetas. Sisa kuning telur yang mengandung diantaranya maternal antibodi 7% dan lipid 20%, dianggap dapat memenuhi kebutuhan anak ayam. Faktanya sisa kunig terlur ini sangat terbatas, dan hanya cukup untuk mempertahankan kehidupannya  bukan untuk pertumbuhan.  Pada hari pertama saja hanya 50% dari kebutuhan energi dan 43% dari kebutuhan protein yang dapat dipenuhi oleh sisa kuning telur.  Protein yang ada pun terutama dimanfaatkan  dalam bentuk maternal antibodi. Sedangkan lemak sebagian besar digunakan untuk membentuk membran sel jaringan tubuh.  Jadi, puasa pada anak ayam tidak dapat memenuhi kebutuhan energi minimum, apalagi energi untuk pertumbuhan.

Pada broiler, terdapat 2 proses utama dalam pertumbuhan, yaitu : hiperplasia (penambahan jumlah sel tubuh) dan hipertrofi (perbesaran ukuran sel). Pada minggu pertama dan kedua, proses hiperplasia lebih besar dari hipertrofi, minggu ketiga seimbang, sedangkan setelah minggu ketiga hipertrofi lebih dominan.

Bisa dibayangkan berapa kerugian yang dapat dialami, apabila  cikal bakal sel-sel tubuh tidak dapat tersedia pada minggu pertama akibat kekurangan nutrisi untuk pertumbuhan. Maka bisa dipastikan ayam akan sulit mencapai bobot badan optimum pada minggu-minggu selanjutnya.

Author by Alwie N.