Strategi Vaksinasi Bronkhitis
Semua umur ayam sensitif terhadap penyakit bronkhitis, kontrol dengan vaksinasi terhadap virus ini cukup rumit karena virus ini memiliki banyak serotipe.
Periode inkubasi penyakit yang disebabkan oleh Coronavirus ini sangat cepat. Hanya dalam hitungan jam, sekitar 18—36 jam. Gejala klinis umumnya muncul 48 jam kemudian. Penularan terjadi melalui kontak langsung maupun tidak langsung. Partikel mengandung virus berasal dari hidung dan tenggorokan unggas yang terserang oleh penyakit ini menjadi sumber awal penularan. Infeksi terjadi melalui konjungtiva atau saluran pernafasan atas. Ayam yang telah sembuh dapat menjadi carrier sampai 49 hari setelah infeksi. Tingkat kesakitan berkisar 10-100%. Beberapa serotipe virus meneyebabkan kerusakan ginjal yang mengakibatkan kematian ayam.
Gejala pernapasan yang menciri pada ayam adalah kesulitan bernapas (gasping), batuk (caughing), dan bersin (sneezing). Mata basah mungkin juga dapat diamati dan biasanya terjadi pembengkakan sinus. Virus juga menyerang saluran reproduksi unggas. Sehingga pada ayam dewasa yang sedang bertelur, ditandai dengan penurunan produksi telur serta abnormalitas bentuk telur. Cacat pada telur bisa berbentuk seperti kulit telur lembek atau permukaan kasar dan bentuk telur tidak beraturan. Pada kasus yang parah, produksi telur menurun tajam atau dapat terhenti sama sekali. Telur menjadi lebih cair. Jika terjadi komplikasi, misalnya diikuti oleh infeksi E. coli akan menyebabkan kerusakan yang lebih parah.
Setelah ayam sembuh produksi telurnya akan naik perlahan tetapi pada angka rata-rata yang rendah. Secara total persentase produksi dalam flok akan menunjukkan grafik yang lebih rendah dari pada grafik produksi telur normal. Bahkan bisa terjadi grafik produksi naik turun selama periode produksi sehingga gambaran grafik menyerupai gergaji. Dalam hitungan ekonomis kondisi ini akan sangat merugikan.
Keragaman Serotipe Virus IB
Dikenal dua strain virus infeksius bronkhitis (IB), klasik dan varian. Yang termasuk dalam strain klasik adalah Connecticut dan Massachusetts. Virus IB varian memiliki banyak serotipe. Keragaman serotipe virus IB terjadi karena dua hal. Yaitu perbedaan pada analisis sekuen (urutan) gen dan perubahan epitope virus. Perbedaan sekuen gen tidak selalu menyebabkan perbedaan serotipe tetapi mungkin berkaitan dengan perbedaan keganasan atau sifat lainnya.
Perubahan epitope menyebabkan antibodi spesifik yang terbentuk menjadi tidak sesuai lagi. Epitope adalah bagian paling luar dari virus yang dikenali oleh antibodi/zat kebal tubuh inang. Ada empat struktur utama yang berkaitan dengan respon imun, yaitu “spike glycoprotein” (S), “envelope” (E), “membrane glycoprotein” (M) dan “nucleocapside (N). Di antara keempat komponen tersebut, bagian “S” merupakan bagian yang menentukan epitope virus IB yang dapat menginduksi terbentuknya antibodi netralisasi yang spesifik.
Pendekatan geografikal
Permasalahan dalam vaksinasi IB untuk pengendalian penyakit cukup kompleks. Salah satunya adalah karena ketidaksesuaian serotipe virus IB lapangan dengan virus vaksin. Ketidak sesuaian tersebut bisa terjadi karena epitope virus IB yang mudah mengalami perubahan. Epitope pada protein “S” mudah mengalami perubahan sehingga tidak semua serotipe virus IB dalam vaksin akan sesuai dengan virus IB di lapangan.
Untuk keberhasilan perlindungan pada ayam dari tantangan virus lapangan perlu melakukan identifikasi serotipe yang terdapat di lapangan dan mengidentifikasi kemungkinan perlindungan silang (cross-protective) dari vaksin yang tersedia. Oleh karena itu, sangat penting bagi setiap farm memiliki catatan tentang serotipe virus IB yang ada di wilayahnya. Dengan begitu dapat menentukan serotipe virus yang sesuai dalam suatu produk vaksin (pendekatan vaksinasi geografikal). Meski peternakan di Indonesia belum banyak melakukan pendekatan geografikal ini, tetapi upaya kearah sana sebaiknya segera dilakukan. Sehingga dalam menentukan vaksin bisa lebih sesuai tidak hanya kira-kira. Pendekatan geografikal juga memperkecil terjadinya pembentukan serotipe baru dan terhindarnya introduksi virus IB baru yang sebelumnya tidak ada dalam wilayah peternakan tersebut.
Untuk mendukung pendekatan geografikal tersebut perlu pemetaan epidemiologi molekuler virus IB lapang secara periodik. Guna menjamin pemantauan dinamika virus IB. Pendekatan geografikal ini memang tidak mudah dan murah. Penggunaan pola ini juga memerlukan banyak produk vaksin IB baru yang harus sesuai atau setidaknya memberikan reaksi silang cukup tinggi pada virus yang ada di lapang. Banyak sekali strain virus IB yang sudah diidentifikasi di seluruh dunia ini. Penelitian di Balai Penelitian Veteriner (Balitvet), Bogor, menemukan lebih dari 16 virus IB isolat lapang. Beberapa di antaranya merupakan isolat lokal Indonesia yang berbeda dengan isolat virus IB yang biasa digunakan sebagai vaksin
 
 
 
Singkirkan Lalat Sejak Telurnya
Problema lalat akan selalu muncul di setiap pemeliharaan ayam baik petelur maupun broiler. Problema ini sering juga mengakibatkan gangguan yang lain, diantaranya kasus penyakit yang ditularkan oleh lalat ini.
Lalat dewasa mempunyai masa hidup antara 19 sampai 70 hari. Sepasang lalat mampu menghasilkan telur dalam 4 minggu sebanyak 125.000 butir. Sehingga dapat dibanyangkan banyaknya jumlah telur yang dihasilkan lalat dalam satu kandang ayam. Hanya perlu waktu 24 jam bagi telur untuk menetas menjadi larva, dan selanjutnya larva akan berkembang sesuai kondisi lingkungan antara 7 sampai 14 hari. Kemudian terbentuk pupa selama 3 sampai 10 hari yang akhirnya akan menjadi lalat dewasa.
Untuk membasmi lalat perlu strategi dengan memahami siklus hidupnya. Dengan memotong siklus hidupnya pada saat tepat akan dapat mengurangi jumlah lalat dalam jumlah besar sekali.
Teknik yang dilakukan dapat melalui berbagai cara, antara lain fisik, biologi dan kimiawi. Yang paling utama adalah cara yang diambil harus tidak berdampak negatif pada lingkungan atau ekosistem yang lain. Penggunaan obat-obatan kadang menimbulkan masalah pada ekosistem sekitar. Selain itu pertimbangan lainnya, dari aspek biaya harus ekonomis.
Salah satu cara yang sangat ekonomis dan efektif adalah dengan mengambil dan memusnahkan telur lalat sebelum menetas menjadi larva. Tujuannya adalah memutus siklus hidup, telur tidak akan pernah sempat berkembang ke stadium berikutnya. Cara ini murah, mudah dan tidak menganggu ekosistem yang lain.
Telur lalat umumnya sering ditemukan pada tempat pakan yang tumpah serta tempat-tempat yang lembab.
Langkah ini dapat diambil dengan pertimbangan efektivitas dan nilai ekonomis. Penghitungan dapat dilakukan dan selanjutnya dibandingkan antara penggunaan obat-obatan, penggunaan kapur (ditaburkan) atau cara lain. Dari penghitungan tersebut akan tampak efektivitas dan nilai ekonomis masing-masing metode, sehingga dapat diambil keputusan apa yang diambil.
Dari hasil trial (uji coba) pada beberapa peternak yang menerapkan metode menyingkirkan telur-telur lalat sesegera mungkin, tanpa menggunakan obat-obatan hasilnya sangat fantastik. Lalat berkurang banyak, efektif dan hemat pemakaian obat.
 
Rahasia Panca Indera Ayam
Mata-penglihatan
Ayam mempunyai 2 buah bola mata. Volume relatif matanya sangat besar bila dibandingkan dengan volume otaknya. Kedua bola matanya mempunyai sensitifitas terhadap warna. Karena itu ayam sanggup membedakan warna dengan tingkat kepekaan yang berbeda- beda. Di antara warna yang ada, ayam mempunyai kepekaan yang paling baik terhadap warna hijau, biru dan kuning dan merah (Donald , 2001). Anak ayam sangat tertarik pada warna kuning, merah, benda kecil bulat , gilig, dan bergerak. Pada ayam broiler warna merah dan kuning dapat meningkatkan aktivitas ayam sedangkan warna biru dan hijau sebaliknya (Henk, 2001).
Bila ayam broiler diberi cahaya berwarna merah aktivitas berdiri, berjalan, makan dan minum akan meningkat. Selain itu ayam juga akan sering mematuk, mengais liter/sekam dan membentangkan sayapnya. Pada dasarnya, warna merah akan meningkatkan agresivitas dari ayam. Sehingga warna merah sangat disarankan untuk periode brooding, di dua minggu pertama kehidupan. Dengan warna merah aktivitas ayam akan terpacu, efeknya feed intake terpenuhi.
Sebaliknya, warna biru dan hijau akan mengontrol aktivitas ayam broiler agar tidak berlebihan. Dalam kondisi yang “lebih tenang“ ini warna biru dan hijau akan menggertak sintesa protein dan memberikan kesempatan pada ayam untuk melakukan proliferasi atau perbanyakan dari serabut-serabut otot. Pada keadaan ini energi untuk maintenance ( pemeliharaan ) dapat ditekan dan dapat dimanfaatkan untuk pertumbuhan. Bila ingin dibandingkan lebih teliti lagi, ternyata warna hijau lebih baik dibandingkan dengan biru dalam memacu deposit protein menjadi daging (Israel, 1999). Sehingga warna hijau menjadi warna ‘favorit’ ayam dari masa lepas brooding sampai dengan panen.
Telinga-pendengaran
Bila dibandingkan dengan hewan bertulang belakang yang bukan mamalia, ayam mempunyai pendengaran yang paling sensitif. Meskipun pendengaran ayam pada umumnya terbatas hingga 10 Khz, tetapi beberapa jenis ayam dapat mendengar suara infrasonik ( Whittow, 2000).
Ayam sudah dapat mendengar sejak menetas. Mempunyai memori terhadap suara hingga umur 4 hari, anak ayam dapat membedakan suara ayam betina yang merupakan induknya sendiri atau bukan induknya. Beberapa praktisi menyebutkan, ayam broiler yang diperdengarkan musik dangdut mempunyai FCR yang lebih baik, sedangkan ayam layer yang diperdengarkan musik klasik menghasilkan lebih banyak telur.
Hidung-penciuman
Hidung ayam mempunyai kepekaan pada bau. Di alam bebas, ayam mempunyai memori yang sangat kuat terhadap bau induk, sarang atau pasangan hidupnya. Ayam juga mempunyai kepekaan terhadap bau bawang putih misalnya, atau bau zat kimia yang merangsang seperti benzaldehyde, heptane, butanethiol cyclorhexane, dan ethylbutyrate
( Whittow, 2000)
Lidah-pengecap rasa
Ayam mempunyai 24 titik rasa (taste buds) sehingga dapat membedakan beberapa macam rasa. Titik rasa ini tersebar terutama pada permukaan bawah bagian belakang lidah, dan daerah pharynx. Pada ayam dewasa jumlah titik rasa hampir 2 kali lipat DOC. Kepekaan terhadap rasa akan menurun pada ayam yang mengalami defisiensi vitamin A dan mineral Zn.
Ayam menyukai rasa manis, tetapi menolak rasa yang terlalu asin. Ayam juga cukup toleran terhadap suasana asam lemah dan basa lemah, meskipun beberapa spesies lebih menyukai air yang agak asam dibandingkan air ledeng yang terlalu basa. Bahkan ada anggota bangsa burung yang suka makan buah-buahan mentah yang rasanya asam dan sangat kecut.
Terhadap rasa pahit, bangsa ayam memberikan respon yang berbeda. Beberapa bangsa ayam tidak dapat merasakan pahitnya senyawa phenolic yang berasal dari sejenis tanaman liar, tetapi kelompok lainnya berespon dengan rasa pahit yang berasal dari tannin
Gangguan Pencernaan: Yang Klasik dari Kandang
Sepanjang semester pertama 2007, kasus-kasus gangguan pencernaan cukup tinggi bermunculan di lapangan, dalam budidaya broiler maupun layer. Fakta tersebut diakui beberapa pihak yang kesehariannya terkait langsung dengan kesehatan dan manajemen di kandang-kandang. Kedati analisa masing-masing berbeda mengenai penyebab dan mekanisme penyakitnya.
Drh Jatmiko, Technical Support PT Agrinusa Unggul Jaya menganalisa sebagian besar kasus yang ditemuinya dengan gejala gangguan saluran pencernaan bukanlah murni berawal dari pencernaan itu sendiri. Ia lebih melihat, munculnya penyakit saluran pencernaan dipicu oleh kasus pernafasan terlebih dahulu. ”Kebanyakan didahului gejala pernafasan, sementara gejala pencernaan sebagai ikutan atau sekunder,” terang Jatmiko. Fakta itu ditemuinya baik di Serang, Kuningan, maupun di wilayah Jawa Timur. Istilahnya, sambung Jatmiko, kasus-kasus pencernaan bersifat oportunis. Maksudnya, secara normal mikroorganisme penyebabnya ada di dalam usus dalam jumlah yang terkendali. Tetapi pada saat kondisi hewan menurun, akibat stres atau sakit misalnya, mikroorganisme tadi berkembang dan menjadi pathogen (mengganas).
E Coli misalnya, sebut dokter hewan tamatan UGM ini, normal selalu ada dalam usus sehat. Tapi akan menjadi mengganggu ketika kondisi daya tahan ayam menurun, E Coli berkembang cepat dan menimbulkan masalah pada pencernaan ayam.
Akibat Stres Tinggi
Lebih jauh Jatmiko memaparkan, fenomena genetis ayam modern saat ini, memaksa kerja metabolisme tubuh lebih berat. Ia menyebut broiler secara spesifik, rasio badan dan paru-paru makin mengecil. ”Saat ini rasio paru-paru hanya 10% dari berat badan. Rasio otot makin besar untuk mencapai bobot seperti yang diharapkan. Maka kerja paru-paru untuk mensuplai oksigen otot yang makin besar, tentunya makin berat,” paparnya. Tak urung fenomena tersebut menjadikan broiler modern lebih mudah mengalami gangguan pernafasan, yang manifestasinya melanjut ke gangguan pencernaan.
Jatmiko menyebut beberapa kasus di lapangan, yang berpotensi memicu stres kemudian berakibat kerja sistem pernafasan makin berat, kondisi memburuk dan pada akhirnya melanjut sebagai gangguan pencernaan. Yang paling sering adalah akibat perlakuan vaksinasi. Umur dua minggu pertama (masa brooding), sangat menentukan perkembangan broiler selanjutnya. Dan biasanya peternak di masa tersebut menerapkan program vaksin. Pemilihan vaksin yang disesuaikan dengan kondisi ayam sangat menentukan dampak yang ditimbulkan pasca vaksinasi.
Lagi-lagi fakta di lapangan yang acapkali ditemuinya, peternak melakukan vaksinasi pertama dengan ND Lasotta atau ND-IB. Menurut Jatmiko, stres yang ditimbulkan oleh vaksin ini sangat tinggi. ”Bisa sampai 5 hari tingkat stresnya!” tegas Jatmiko. Penjelasannya, vaksin tersebut bersifat live atau aktif, dan organ targetnya adalah di saluran pernafasan. Tak pelak vaksin tetes ini akan menekan kerja paru-paru yang memang sudah secara genetis harus bekerja berat. Jatmiko menekankan, apabila DOC yang diterima saat chick in tampak tidak sepenuhnya fit, maka perlu dipertimbangkan untuk menggunakan vaksin yang tidak menekan kuat pernafasan. ”Pilih vaksin dengan organ target viscera (saluran pencernaan-red),” pria ini menyarankan. Bahkan, bila perlu tunda vaksinasi, dan perkuat biosekuriti. Demikian Jatmiko memberi masukkan.
Selain itu, di masa brooding peternak kurang memperhatikan masalah dinamika suhu. Menurut Jatmiko, di masa bediding seperti saat ini, suhu udara lewat tengah malam sangat rendah. Dan kontrol pemanas kandang acapkali diabaikan. ”Jam 2 -3 malam, mestinya suhu dikontrol,” ujar Jatmiko. Tidak optimumnya kondisi di masa brooding akan berakibat tidak optimalnya pertumbuhan selanjutnya. Termasuk mudah stres dan rentan akan kasus-kasus penyakit.
Coccidiosis: Pintu Gerbang
Pendapat sedikit berbeda dikemukakan drh Andi Wijanarko, Technical Manager PT Pimaimas Citra. Andi justru berpendapat pencernaan sebagai titik utama sehat tidaknya ayam. Bahkan ia menyebut, kasus coccidiosis sebagai pintu gerbang bagi penyakit lain pada layer, seperti ND atau gumboro (=IBD), bukan sebaliknya. Meski ia tidak menampik, khusus E coli tidak terbantahkan sifatnya yang oportunis.
Andi menegaskan, sepanjang saluran pencernaan itu sehat, bisa dipastikan secara umum kondisi ayam akan sehat. Logikanya, sambung dokter hewan yang juga lulusan UGM ini, kalau usus sehat, otomatis proses absorbsi (penyerapan) nutrisi bisa optimal, dan pada akhirnya daya tahan tubuh tinggi. Tiga kasus pencernaan yang oleh Andi dianggap sebagai kasus utama adalah coccidiosis, infeksi E coli (colibacillosis) dan necrotic enteritis (NE) yang disebabkan Clostridium perfringens. Pendapat sama juga diungkap
drh Hananto PT Bantoro, Technical Manager Animal Health Business Unit PT Novartis Indonesia.
Andi secara khusus menyoroti soal coccidiosis, penyakit dengan penyebab coccidia (Eimeria sp) yang kejadiannya cukup tinggi di Indonesia, mengingat iklim yang tropis. Penyakit ini diakui sebagai penyakit pertama disebut dalam konteks kasus penyakit saluran pencernaan. ”Coccidiosis adalah penyakit sepanjang tahun. Kemunculannya tergantung pada kelembaban kandang,” ujar Andi. Ia menambahkan, kandang panggung bukanlah jaminan terbebas dari cocci. Selama kelembaban di areal tersebut tinggi, keberadaan coccidiosis bisa dipastikan ada. ”Istilahnya persisten,” tegas pria berkacamata minus ini. Pelanggannya, yang berlokasi di Jabar melaporkan kasus coccidiosis senantiasa ada, hanya saja kadang infeksinya berat, kadang relatif ringan. Untuk yang daerah kelembaban tinggi seperti ini, beberapa pelanggan lebih memilih vaksinasi daripada penggunaan anticoccidia dalam pakan
By: Alwie nur r.